Terjajah di Negeri Sendiri

Warga pribumi jadi tukang kebun disini. Warga pribumi juga jadi cleaning service disini. Warga pribumi jadi penjaga kandang disini. Warga pribumi juga jadi satpam disini. Yang jadi kepala di kantor ini, tentu saja pendatang dari daerah lain. Warga pribumi terjajah di negeri mereka sendiri.

Sebenarnya kata “terjajah” adalah metafora yang berlebihan. 🙄 Toh setiap manusia punya garis nasib masing-masing. Manusia punya rezki masing-masing. Mereka bekerja untuk menafkahi anak istri mereka. Mereka memanfaatkan peluang bekerja di tengah pengangguran yang melanda. Mereka harus ikhlas menerimanya. Tapi kondisinya lain. Ini tanah mereka. Disini mereka menghabiskan masa kanak-kanaknya. Seperti juga kalian tahu. Kita pasti akan mengenal sekali daerah tempat kita dibesarkan. Kita akan mengenal sekali seluk-beluk daerah yang telah kita tempati sejak lahir. Tentu saja.

Kadang aku juga berpikir, mengapa harus terjajah. Kemiskinan biasanya jadi kambing hitam. Putus sekolah karena gak ada biaya seringkali terdengar dari suara-suara putus asa mereka. 😥 Menghambat anak-anak mewujudkan cita-citanya. Padahal cita-cita mereka nggak kalah megahnya. Menjadi astronot, menjadi dokter, menjadi professor, menjadi koruptor (ups… yang ini nggak), menjadi pengusaha sukses, menjadi politikus, menjadi pengacara, menjadi sastrawan,  dan menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Yang terakhir ini biasanya jawaban seorang anak yang kebingungan dan belum tau apa cita-citanya, he he he. :mrgreen:  Jadilah mereka para pemuda putus sekolah yang kebingungan dan mau disuruh-suruh apa saja agar bisa dapat uang untuk makan. Mereka bersedia menerima pekerjaan apa aja asal mereka punya kerja, asal mereka terlihat mempunyai kerja, asal mereka punya kesibukan karena punya kerja. Yang penting ada kerja. Apapun pekerjaan itu yang jelas mereka sudah punya kerja, dan  mertua rela mempercayakan anaknya pada mereka. Toh mereka sudah bekerja.

Memang, apapun pekerjaan yang kita geluti harus disyukuri karena itu jalan rezki yang diberikan oleh Allah Subhanahuwata’ala. Senantiasa bersyukur walau rezki itu begitu kecilnya. Bukankah Allah subhanahuwata’ala akan menambah rezki hambanya yang senantiasa bersyukur. Tapi disisi lain kita juga diberi kesempatan untuk mengubah nasib sendiri menjadi lebih baik. Tentu saja kesempatan di negeri ini begitu sulit diraih, tapi pepatah jadul mengatakan “dimana ada kemauan disana ada jalan”. Pepatah ini terbukti ampuh bagi mereka yang tidak mau menyerah. Kegagalan bagi mereka adalah batu loncatan untuk meraih kesuksesan.

Kalau sekarang kita sudah gak ada harapan lagi atau harapan itu begitu tipisnya, ga ada salahnya kita berbuat untuk anak cucu kita. Jangan sampai mereka merasakan hal yang sama dengan yang kita rasakan. Jadikan mereka “raja” di negeri mereka sendiri. Bukan “raja” yang suka pungut “uang takut” dari rakyatnya, tapi “raja” yang membangun negerinya dengan segala sumber daya yang mereka miliki, sehingga hasil dari kerja keras mereka begitu berarti. Mereka tidak merasa terjajah lagi di negeri mereka sendiri.

Advertisements