From a Husband

Kemarin nyari lirik lagunya Maher Zain. Ketemu dengan judul ini “For the rest of my life”. Ada juga remakingnya dalam bahasa Indonesia, berjudul “Sepanjang Hidup”. Setelah diamatin ternyata lagu ini bercerita tentang cinta seorang suami pada istrinya. Seumur-umur aku ga pernah nemuin lagu yang mengambil tema ini. Palingan yang sering ketemu, dan itu berjuta kali adalah ungkapan cinta pada seorang gadis yang bernama pacar bukan seorang istri yang berlabel halal.

This is the lyric :

“For The Rest Of My Life”

I praise Allah for sending me you my love
You found me home and sail with me
And I`m here with you
Now let me let you know
You`ve opened my heart
I was always thinking that love was wrong
But everything was changed when you came along
Oooooh
And there’s a couple of words I wanna say

For the rest of my life
I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true
Until the end of my time
I`ll be loving you, loving you
For the rest of my life
Through days and nights
I’ll thank Allah for opening my eyes
Now and forever I
I`ll be there for you

I know it deep in my heart
I feel so blessed when I think of U
And I ask Allah to bless all we do
You`re my wife & my friend & my strength
And I pray we`re together in Jannah
Finally now I’ve found myself, I feel so strong
I guess everything was changed when you came along
Oooooh
And there’s a couple of words I wanna say

For the rest of my life
I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true
Until the end of my time
I`ll be loving you, loving you
For the rest of my life
Through days and nights
I’ll thank Allah for opening my eyes
Now and forever I
I`ll be there for you

I know it deep in my heart
& now that you`re here
In front of me I strongly feel love
And I have no doubt
And I sing it loud that I will love U eternally

For the rest of my life
I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true
Until the end of my time
I`ll be loving you, loving you
For the rest of my life
Through days and nights
I’ll thank Allah for opening my eyes
Now and forever I
I`ll be there for you

I know it deep in my heart

Of course I’m not able to sing this song.

Advertisements

Terjajah di Negeri Sendiri

Warga pribumi jadi tukang kebun disini. Warga pribumi juga jadi cleaning service disini. Warga pribumi jadi penjaga kandang disini. Warga pribumi juga jadi satpam disini. Yang jadi kepala di kantor ini, tentu saja pendatang dari daerah lain. Warga pribumi terjajah di negeri mereka sendiri.

Sebenarnya kata “terjajah” adalah metafora yang berlebihan. 🙄 Toh setiap manusia punya garis nasib masing-masing. Manusia punya rezki masing-masing. Mereka bekerja untuk menafkahi anak istri mereka. Mereka memanfaatkan peluang bekerja di tengah pengangguran yang melanda. Mereka harus ikhlas menerimanya. Tapi kondisinya lain. Ini tanah mereka. Disini mereka menghabiskan masa kanak-kanaknya. Seperti juga kalian tahu. Kita pasti akan mengenal sekali daerah tempat kita dibesarkan. Kita akan mengenal sekali seluk-beluk daerah yang telah kita tempati sejak lahir. Tentu saja.

Kadang aku juga berpikir, mengapa harus terjajah. Kemiskinan biasanya jadi kambing hitam. Putus sekolah karena gak ada biaya seringkali terdengar dari suara-suara putus asa mereka. 😥 Menghambat anak-anak mewujudkan cita-citanya. Padahal cita-cita mereka nggak kalah megahnya. Menjadi astronot, menjadi dokter, menjadi professor, menjadi koruptor (ups… yang ini nggak), menjadi pengusaha sukses, menjadi politikus, menjadi pengacara, menjadi sastrawan,  dan menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Yang terakhir ini biasanya jawaban seorang anak yang kebingungan dan belum tau apa cita-citanya, he he he. :mrgreen:  Jadilah mereka para pemuda putus sekolah yang kebingungan dan mau disuruh-suruh apa saja agar bisa dapat uang untuk makan. Mereka bersedia menerima pekerjaan apa aja asal mereka punya kerja, asal mereka terlihat mempunyai kerja, asal mereka punya kesibukan karena punya kerja. Yang penting ada kerja. Apapun pekerjaan itu yang jelas mereka sudah punya kerja, dan  mertua rela mempercayakan anaknya pada mereka. Toh mereka sudah bekerja.

Memang, apapun pekerjaan yang kita geluti harus disyukuri karena itu jalan rezki yang diberikan oleh Allah Subhanahuwata’ala. Senantiasa bersyukur walau rezki itu begitu kecilnya. Bukankah Allah subhanahuwata’ala akan menambah rezki hambanya yang senantiasa bersyukur. Tapi disisi lain kita juga diberi kesempatan untuk mengubah nasib sendiri menjadi lebih baik. Tentu saja kesempatan di negeri ini begitu sulit diraih, tapi pepatah jadul mengatakan “dimana ada kemauan disana ada jalan”. Pepatah ini terbukti ampuh bagi mereka yang tidak mau menyerah. Kegagalan bagi mereka adalah batu loncatan untuk meraih kesuksesan.

Kalau sekarang kita sudah gak ada harapan lagi atau harapan itu begitu tipisnya, ga ada salahnya kita berbuat untuk anak cucu kita. Jangan sampai mereka merasakan hal yang sama dengan yang kita rasakan. Jadikan mereka “raja” di negeri mereka sendiri. Bukan “raja” yang suka pungut “uang takut” dari rakyatnya, tapi “raja” yang membangun negerinya dengan segala sumber daya yang mereka miliki, sehingga hasil dari kerja keras mereka begitu berarti. Mereka tidak merasa terjajah lagi di negeri mereka sendiri.

Tak Sama

Sadang kayu di rimbo ndak samo tinggi, kok kunun manusia

(Even the trees in the jungle are not all of the same height, let alone the people.)

Semua manusia punya sifat khas yang berbeda satu sama lainnya. Kadang kita kebingungan menghadapi seseorang yang punya prilaku yang benar-benar baru, alias belum pernah ditemukan sebelumnya. 🙄 Baik cara bicaranya, cara berjalan, cara bergaul, cara menyatakan pendapat, cara menulis, cara tertawa, bahkan cara menangisnya. Pertama kali bertemu pokoknya. Kita nganggapnya aneh. Pernah gak?

Aku teringat cerita seorang teman yang kebingungan menghadapi temannya yang mempunyai sifat pendiam dan sulit dipahami. Sebutlah nama temannya itu Fred. Fred adalah seorang anak yang jarang bicara. Dia kebanyakan diam dalam berbagai perbincangan.  Seolah-olah dia memendam sebuah kesalahan yang membuatnya begitu tertekan dan ketika topik pembicaraan mengenai hal yang berdekatan dengan masalahnya itu dia cendrung tidak terkendali dan marah secara tiba-tiba. 👿 Kita yang ikut disana bengong aja gak ingat salah apa?. Pernah berkata apa?

Aku juga mempunyai seorang teman yang mempunyai khayalan dan cara berfikir yang tidak runut. Cendrung meloncat-loncat. Kadang aku dapat ide banyak darinya. Kadang aku juga jengkel kepadanya. Kadang aku ingin sekali memukulnya. Tapi karena aku orangnya baek… ha ha ha. Memuji diri sendiri. 😳 Jadinya aku hanya senyum-senyum saja mendengar khayalan yang ga tentu arah dan tidak terlalu memikirkannya. Mungkin masuk telinga kanan, eh keluar lagi beberapa detik setelahnya di telinga kiri. Maaf…

Aku juga punya teman. Teman sepermainan. Eh… kok jadi nyanyi….! Back to the topic. Temanku itu selalu merasa hebat dan lebih berpengalaman. Aku adalah anak kecil yang ga tau apa-apa dihadapannya. Aku nurut aja. Jadi anak kecil yang ga tau apa-apa ga masalah. Kalau seandainya aku menyanggah dia bakal jadi-jadian menunjukkan superpowernya. Dapat saingan pula nanti Negara Amerika, trus pecah perang dunia ketiga,,, gawaaaaaaat!.

Ada juga temanku yang selalu mengeluh mengenai apapun. Semuanya buruk dihadapannya. Pokoknya semuanya tidak sempurna, ada yang salah, tidak beres, tidak pantas. Pokoknya ada aja deh yang dikeluhkan. Kalau yang satu ini aku menghindar saja. Jadi naik darah kalau dekat dengannya.

Ada lagi temanku. Eh kok jadinya gunjing ya? Termasuk gunjingkah ini? Kuharap tidak, karena aku cuma mau ngasih contoh aja. Tapi contohnya kebanyakan kayaknya. Stop, nulis mengenai teman-temanku disini. Stop!

Ya begitulah. Setiap orang tak sama. Benar kata pepatah Minang, “Sadang kayu di rimbo ndak samo tinggi, kok kunun manusia“. Sedangkan kayu di hutan tidak sama tinggi, apalagi manusia. Maksudnya bukan pada tinggi manusianya, tapi pada sifat-sifat yang berbeda pada diri mereka. Tergantung bagaimana kita berhadapan dengannya. Langkah terbaik menurutku adalah mengalah aja atau menjadi anak kecil aja, atau diam aja, atau senyum nyengir aja. Ga pa pa kan? Daripada kehilangan teman-teman yang susah nyarinya. Tul ga? 😉

Kesedihan

Life is never flat. Bener banget. Hidup itu ga datar-datar aja. Sejak lahir sampai sekarang pasti banyak yang terjadi. Kadang bahagia, kadang sedih, kadang menangis, dan kadang tertawa. Bohong kalau ada orang yang bilang kalau hidupnya datar-datar aja, biasa-biasa aja, dan lebih bohong lagi jika dia bilang hidupnya ga berarti. Emangnya kita diciptakan oleh Allah Subhanahuwata’ala hanya untuk menyimpulkan hidup kita tidak berguna?. 😕 Ada misi khusus yang diemban oleh manusia. Misi dimana semua makhluk di alam ini enggan menerimanya. Misi dimana kita sebagai manusia diberi amanah untuk mengembannya. Kamu pasti tau misi itu… Eh ngelantur kemana-mana dari topik… ❓

Topik? Ya. Topik kita kali ini mengenai kesedihan. 😥 Kesedihan merupakan bagian dari hidup ini. Bagian dari hidup kita yang ga datar-datar aja. Kesedihan berasal dari kata “sedih” yang menurut Kamus Bahasa Indonesia (KBI, 2008) berarti merasa sangat pilu dalam hati, menimbulkan rasa susah dalam hati, peristiwa-sangat sulit untuk dilupakan. Jadi kesedihan itu merupakan perasaan sedih, duka cita, atau kesusahan hati. Banyak cara yang dilakukan manusia untuk mengungkapkan kesedihan. Ada yang menangis sejadi-jadinya 😥 dan baru berhenti karena kelelahan atau pingsan. Ada yang menyimpan kesedihan itu dengan pergi sejauh-jauhnya. ➡ Ada yang begitu tegar, sehingga kesedihan tidak memenuhi hari-harinya. Ada yang menulis, mengungkapkan semua kesedihannya dalam sebuah tulisan, puisi atau cerita. Ada yang bernyanyi, mengungkapkan kesedihannya dalam sebuah lagu. Ada yang tertawa. 😆 Kalau yang satu ini berakhir di RSJ (rumah sakit jiwa) atau bingung tak tau arah di jalan raya, dan masih banyak lagi cara manusia mengungkapkan kesedihannya.

Bagi aku sendiri, moment paling menyedihkan adalah pada saat ibu meninggal pada 2006 lalu. Aku begitu sedih sampai-sampai tidak semangat lagi untuk kuliah. Padahal saat itu adalah semester 7. Salah satu ungkapan sedihku saat itu adalah dengan menulis. Betapa cengengnya aku pada waktu itu. Dengan support dari saudara, kerabat dan teman-teman, Alhamdulillah aku bisa melewatinya. Terimakasih.

Memang, kehilangan orang-orang yang kita cintai adalah moment yang sangat menyedihkan. Namun ketika kesedihan itu berlarut-larut justru merugikan diri sendiri. Mari berfikir secara bijak. Ketika kita kehilangan seorang ibu/orang yang kita cintai dan dia telah lama menderita sakit hingga akhirnya mereka meninggal, mengapa kita masih tidak merelakan?. Apakah kita tega melihat mereka menderita dengan sakitnya. Gak ada yang menyenangkan ketika kita sakit, you know?. 😡

Kadang aku juga merasa egois waktu ibu meninggal. Aku bersedih karena tidak punya ibu lagi, tidak ada lagi yang akan memasak makanan yang enak-enak, tidak ada lagi yang akan menasehati, tidak ada lagi yang akan menyanjung, tidak ada lagi yang akan memberi semangat, tidak ada lagi yang menghibur ketika sedih, tidak ada lagi pelukan hangat ketika meraih keberhasilan, tidak ada lagi yang akan mengurusi hidup sehari-hari, tidak ada lagi yang akan menyambut dengan hangat saat pulang kampung, tidak ada lagi tempat berkeluh kesah dan masih banyak ketidak adaan lainnya. Egois bukan? Semuanya itu adalah mengenai diriku, hidupku, untukku, demi aku, kebutuhanku, dan keinginanku. 😯 Hanya sedikit aku mendoakan ibu waktu itu. Demi kebutuhannya. Hal ini baru kusadari setelah beberapa minggu ibu meninggal. Bukankah doa dari anak yang shaleh yang sangat dibutuhkan orang tua di alam barzakhnya?.

Jadi, menurut aku apapun kesedihan yang melanda, coba selami dari berbagai sisi. Jangan dari satu sisi saja, yaitu dari sisi kita sendiri yang cendrung subjektif dan pragmatis.  Memang sunnatullah manusia menemui kesedihan dalam hidupnya. Tergantung pada cara kita menyikapinya. Kan hidup itu ga datar-datar saja. Penuh lika-liku dan ujian. Betul Ga ❓

Sendiri

Aku hanya senyum tak mampu berkata apa-apa. Pagi tadi waktu di GOR Lap. Bintang Subang seorang teman bertanya padaku, “Sama siapa?”. mmmmmmm…. 😳

Beberapa minggu lalu teman kantorku juga bertanya di lokasi yang sama,”Sama siapa?”. “He he he… sendirian”, kataku.

Waktu pergi surveilans ke beberapa daerah di sekitaran Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta aku juga sering ditanya, “Masih sendiri?”. “Ya”, kataku. Merekapun menertawakan. 😆

Waktu makan di warung kantor, salah satu topik pembicaraan juga mengenai diriku yang masih sendiri. Ada yang ngusulkan nyari di tempat fotokopi (kebanyakan t4 fotokopi dikelola oleh orang Padang), ada yang nyuruh nyari di rumah makan Padang (maklum di setiap sudut kota di mana aja pasti ada rumah makan Padang), ada yang nyuruh nyari di pasar-pasar (Biasa, orang Padang. Hobi dagang dan memenuhi pasar-pasar). Beragam dah. Sampai-sampai ada yang su’dzon. Aku normal apa tidak sih…..? hi hi hi hi. Ya normal lah….! 👿

Saat ini aku masih sendiri. Mohon maaf jika ada yang kecewa, penasaran, bertanya-tanya, dan sebagainya. Kondisinya belum memungkinkan… Sabar… Sabar…. 😉

Perjalanan Berlanjut

Via wikimapia.org

Setelah semalam nginap di puncak monas, perjalanan berlanjut 2200 km ke arah utara agak ke barat laut. Berlabuh di :

Explanade Singapore

Bergerak 800 km ke arah barat laut menuju :

Petronas Twin Tower Kuala Lumpur Malaysia

Stop dulu. Capek naik tangga sampe lantai paling atas. Liftnya lagi mati… Fiuuuuhhh. Ada gak ya di KL mati lampu dan gensetnya kehabisan bahan bakar? 😡 Nginap disini aja.

Jalan-Jalan

Via wikimapia.org

Perjalanan dimulai dari sini :

BPPV Subang

Bergerak ke barat daya sekitar 45 km :

Institut Teknologi Bandung

Bergerak ke barat laut sejauh 190 km :

Bogor Botanical Garden

Perjalanan dilanjutkan 45 km ke arah utara :

Universitas Indonesia

Lanjut…. 45 km ke utara :

Monumen Nasional

Stop dulu… perjalanan dihentikan… Jaringan Internetnya lagi lelet. Istirahat di puncak Monas … he he… 😉