Tak Tentu Arah

Dalam perjalanan tak tentu arah dengan angkot caheum-ledeng pada Sabtu, 26 November aku tertarik singgah di  Rumah Buku di Jl. Supratman no. 96 Bandung. Beberapa bulan lalu temanku pernah merekomendasikan toko ini  karena diskonnya yang menarik.

Rumah Buku Jl. Supratman Bandung (pict dari asopusitemus.com)

Pertama kali masuk ke toko ini, aku langsung tertarik dengan buku-buku di meja dengan plang “diskon 30%”. Wow… ternyata buku-buku itu ga jadul-jadul amat. Selanjutnya aku menyusuri hampir seluruh bagian toko. Toko ini tidak terlalu besar, tapi koleksinya cukup banyak. Saking banyaknya buku-buku itu disusun berdempetan di rak-rak tanpa memperlihatkan covernya. Jadinya aku harus ekstra mendekat supaya bisa membaca judul buku dengan jelas pada bagian jilidan buku.

Puas mencari di bagian kamus, aku tidak menemukan buku tata bahasa Sunda, buku yang sering kucari-cari beberapa bulan terakhir ini jika pergi ke toko buku. Sudah lebih setahun aku tinggal di tatar berbahasa sunda ini, dan sampai sekarang aku masih sulit mengerti apalagi berbicara dengan bahasa ini. Di kantor sendiri kebanyakan dihuni oleh orang Jawa sehingga lebih sering mendengar bahasa Jawa daripada Sunda. 😥

Akhirnya aku memutuskan untuk mencari di katalog komputer. Ada beberapa buku yang ditulis dengan keyword “sunda”. Salah seorang pelayan toko menghampiriku dan mungkin sekilas melihat keywordku sehingga dia langsung menuntunku ke rak kamus. Dia mengambil beberapa buku dan memberikannya padaku. Aku memilih buku “Sundanese Indonesia – english” yang dikarang oleh Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djajasudarma, dkk. Bukunya cukup menarik. Sunda, Indonesia, English dipadukan dalam percakapan sehari-hari. Useful banget and tentunya harganya “surprise”. Di barcode buku tertulis harganya Rp. 60ribu dan diskon 15 % jadi Rp. 51ribu. Aku telah menyiapkan uang Rp. 51ribu ketika si kasir bilang dapat diskon 25 %. Toko yang aneh. Jadinya aku bayar Rp. 45ribu untuk buku ini. he he.. Lumayan buat nambahin ongkos angkot. 😆

Tak mau kantongku terkuras di toko ini yang diperparah kegilaanku pada buku, aku langsung beranjak meninggalkan tempat perayu tersebut. Sebenarnya masih ada “Toko Toga Mas” tidak jauh dari lokasi, dengan diskon menarik pula, namun aku sudah bertekad menahan pengeluaran pada “akhir bulan ini”.

Aku beranjak ke PUSDAI (Pusat Dakwah Islam) di Jl. Diponegoro 63 Bandung. Tidak jauh dari toko rumah buku.

Masjid PUSDAI Jawa Barat (pict dari alamarcamanik.blogspot.com)

Arsitektur masjid ini sangat bagus. Disekelilingnya terdapat beberapa ruangan untuk kegiatan keIslaman,  ruang seminar, perpustakaan, dan sebagainya. Halamannya yang luas sering digunakan untuk berbagai macam kegiatan. Setelah menunaikan shalat ashar, aku menuju salah satu sudut halaman masjid. Disana sedang berlatih puluhan orang boxer (tarung derajat). Dari gerakannya kelihatan mereka lagi latihan buat eksebisi.  Pada Sea Games kemaren mereka melakukan eksebisi agar bisa menjadi salah satu cabang yang dipertandingkan di Sea Games. Aku cukup tertarik dengan beladiri yang satu ini.

Waktu beranjak sore. Aku memutuskan untuk pulang. Sebenarnya aku mau pergi ke PVJ untuk melihat acara INAFFF di Blitz. Namun urung kulakukan. Udah capek. Dengan angkot Caheum-Ledeng aku langsung pulang.

Tepuk Tangan Penonton

Apa yang akan kamu lakukan jika jagoanmu sedang bertanding dan posisinya cukup kuat untuk menang, padahal lawannya begitu berat?. Kalo aku tersenyum biasa aja alias jaim (aku kan hobbynya jaga image…preeet). Tapi yang kutemukan sore ini di Empire BIP Bandung cukup lucu. 😆

Saat itu film Real Steel sedang diputar. Penonton yang didominasi oleh anak muda ini begitu hanyut dengan alur cerita film.

Atom lagi niru gerakan Charlie... he he lucu

Atom adalah robot tipe peniru. Dia bisa di setting meniru setiap gerakan manusia. Robot generasi kedua ini sudah tertimbun di tempat pembuangan ketika ditemukan Max. Secara tak sengaja Atom menyelamatkan nyawa Max. Sejak saat itu Max, si bocah 11 tahun ini berusaha menghidupkannya kembali dan mengupgrade kemampuannya. Yang lucu adalah saat Atom mulai bertarung pertama kali dan menang, penonton tepuk tangan. Dan tepukan tangan itu selalu terdengar ketika beberapa kali  Atom menang dalam pertarungan berikutnya. Tepukan paling keras tentu saja pada akhir cerita ketika Atom bertarung mati-matian melawan Zeus, robot petarung yang belum pernah kalah. Saat itu Atom mampu bertahan sampai ronde terakhir. Menurutku lucu aja. Soalnya mereka kayak anak kecil aja. Nonton film pake tepuk tangan segala. hi hi hi 😆

Walau demikian aku cukup terhibur juga. Menurutku film ini cukup bagus dan banyak pelajaran yang bisa diambil. Pelajaran utamanya adalah tetap bekerja keras, walaupun tantangan yang dihadapi begitu berat. Kurangnya sumber daya bukan alasan untuk menyerah. Sampai saat sudah tak ada lagi kemungkinan padahal sudah berusaha maksimal, maka berdoalah.  😉

Padang, Pekanbaru, Medan, Jakarta, Bandung, Serang, next…

Dari target minimal 17 ibukota provinsi baru 6 kota yang udah aku kunjungi:

1. Padang (Sumatera Barat)

Jelas dong, ini kan ibukota provinsi tanah kelahiranku. 7 tahun aku di kota ini. Sekitar 70-an km dari Padang Panjang

2. Pekanbaru (Riau)

Tahun 2005 aku berkunjung ke Kota ini buat ngikutin LKMM-TM se-Indonesia di Universitas Riau

Continue reading “Padang, Pekanbaru, Medan, Jakarta, Bandung, Serang, next…”