Rabu, 9 Maret 2011 kami (pegawai BPPV Subang sebanyak 9 orang) pergi ke Jakarta, tepatnya RSUP Fatmawati, tepatnya lagi di Klinik Griya Husada, tepatnya lagi…ah udah…
nggak perlu terlalu detail.
Mengapa aku menyebutnya “In The Land of Women?” kayak judul sebuah film. Jangan berpikiran yang macam-macam dulu. Jangan pikir aku berada di sebuah pulau yang semuanya diisi oleh wanita kecuali aku, bukan. Itu terlalu jauh, alias tidak mungkin. Ini mengenai siapa yang jadi tukang muter-muter stir, tukang injak gas, tukang injak kopling, tukang injak rem, tukang mindahin gigi, alias jadi “sopir”.
He he he…
Alkisah…. Cieee… kayak mau mendongeng aja. Yup. Kisahnya begini. Pada pagi buta hari itu sembilan orang yang terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu berangkat dari kediaman mereka ke Jakarta untuk Tes Kesehatan. Demi memenuhi persyaratan menuju seratus persen (kalau belum seratus persen berarti masih muda-muda). Butuh waktu sekitar 3 jam untuk mencapai RSUP Fatmawati dari Subang. Butuh humor-humoran biar para penumpang tidak bosan dan ketiduran (ada juga yang pulas ternyata). Butuh banyak kesabaran karena duduk sempit-sempitan (dibagian tengah mobil khususnya). Butuh cemilan untuk mengganjal perut yang lapar, plus air minum biar gak kering kerontang and plus lagi ngitungin jumlah Solaria di rest area buat jatah makan siang (dibayar oleh yang lagi ultah…
hi hi.. licik).
Di klinik, semuanya ngisi formulir data diri dan riwayat penyakit, ukur berat badan, tinggi badan, tensi, tes buta warna, ambil darah dan nampung urine buat uji laboratorium, periksa umum oleh dokter dan rontgen bagi yang tidak hamil. Habis bayar semua biaya berlanjut ke Citos. Setelah perut kenyang di aw-aw lanjut milih kue di btalk dan lanjut ke kantor pusat buat ngurus-ngurusan, trus langsung balik ke Subang. Mampir di km 57 buat penyegaran dan shalat. Solaria? Masih jadi impian
karena udah kenyang. Berhenti di Widia buat beli oleh-oleh sambil nyantap ubi cilembu dan gerutuan gak jelas tentang rasanya yang aneh. Dan sampai di rumah masing-masing dengan rasa lelah yang teramat sangat.
Semuanya berlangsung lancar. Yang jadi sopir ibu-ibu. Ha ha ha, Benar. Selama perjalanan itu yang jadi sopir ibu-ibu tapi masih berkepala dua. Muda maksudnya. Si Bapak-bapak menjadi pengikut setia aja, nggak megang setir sedikitpun. Itulah mengapa aku nyebut perjalanan kali ini dengan In The Land of Women, dikendalikan oleh wanita. Masalahnya aku juga termasuk ke kumpulan bapak-bapak itu. Fiuhhh menyedihkan.
Apa hikmah yang dapat diambil ya?. Yang jelas tak ada salahnya wanita ngampil peran pria seperti jadi sopir. tapi seandainya ada pria, ngapain gak pria aja yang disuruh. Sayangnya kasus kali ini, hanya beberapa bapak aja yang bisa nyetir dan punya alasan masing-masing untuk tidak bisa memenuhi peran. Jadinya peran ini diambil oleh ibu-ibu dan berkuasa sepenuhnya. So… bapak-bapak bersiap untuk perjalanan selanjutnya. jangan ada alasan lagi.
