Makna Hitam Putih
Ditulis 4 Agustus 2007
Pagi ini, ujian akhir semester satu dimulai, Rian berangkat ke kampus Unand Limau Manih dengan memakai kostum hitam putih. Matanya sembab, karena tadi malam dia terlalu memaksakan untuk belajar dan tidur saat larut. Dia hampir saja terlambat bangun untuk shalat Subuh.
Di dalam bus kampuspun Rian terus membaca buku catatannya dan berusaha mengingat-ngingat yang telah dipelajarinya tadi malam. Kimia organik I merupakan mata kuliah yang sangat susah baginya. Ujian dimulai pukul delapan pagi di ruangan C1.7. Sejak turun dari bus kampus dan menelusuri koridor-koridar menuju ruangan tersebut, dia terus mengintip buku catatan dan berusaha mengingat-ngingat materi kuliah tersebut. Andi teman karibnya juga sibuk mengacak-ngacak buku catatan yang berupa fotokopian di sebuah kursi di koridor. Rian menyapanya saat melintas. Kelihatan sekali bahwa dia sedang kebingungan. Rian mendekatinya.
“Sudah mantap belajarnya, Ndi?”, sapa Rian semangat.
“Apanya yang mantap, blank otakku dibuatnya”, Jawab Andi ketus.
“Yuk kita ke ruangan!”, ajak Rian.
“Ya”, jawab Andi sambil merapikan catatannya yang sudah acak-acakan.
“Nanti ujiannya yang jujur yang Ndi, jangan sampai mencotek”, ucap Rian dengan serius.
“Kalau soalnya sulit gimana?”. Tanya Andi.
“Ya, kita kan sudah usaha, seandainya masih gagal gak masalah kan?”
Andi hanya diam saja sampai mereka tiba di pintu ruangan C1.7.
Hampir semua kursi di bagian belakang ruangan C1.7 itu sudah diduduki oleh teman-teman Rian. Andi langsung menuju kursi yang telah berlabel namanya dalam secarik kertas dan langsung duduk disana. Rian mengikuti di belakangnya. Namun hampir semua kursi telah dilabeli oleh teman-teman Rian dengan nama mereka masing-masing.. Dalam hati Rian bertanya, “Apa sih maksudnya?”. Rian tetap duduk dekat Andi di kursi yang berlabelkan “Mila” di secarik kertas. Teman-teman yang lain hanya diam saja.
Kesempatan untuk melirik kembali catatannya menjelang ujian dimulai, tidak dilewatkan oleh Rian. Dia kembali menggelar catatan yang telah dipeganginya sejak dari bus kampus tadi di lengan kursi yang didudukinya. “Gugus fungsi alkana, CnH2n+2″ gumamnya dalam hati dan berusaha mengingat-ngingat rumus tersebut. Saat tangannya mulai membalik halaman berikutnya. Mila, si pemilik kursi datang dengan marah.
“Ini kan kursi Mila, Rian tidak melihat ada label Mila disana?”.
“Tapi Rian duluan datang, makanya Rian duduk disini”, Jawab Rian.
“Mila sejak kemaren telah memberi label kursi ini dengan nama Mila di secarik kertas, ayo berdiri”, Mila terus memaksa. Rian berusaha menahan emosinya.”Tapi, mengapa harus kursi ini?”, tanya Rian.
“Rian lihat sendiri, kan?, posisi kursi ini memungkinkan Mila untuk leluasa dalam ujian”
Sejenak Rian memperhatikan ke sekelilingnya. Memang posisi kursi ini jauh dari pantauan Pengawas Ujian, karena terletak agak ke belakang.
“Kalau Rian nggak mau, gimana”, tanyanya lagi.
“Ya, Mil, biarkan saja Rian duduk disana.” Andi yang dari tadi hanya diam ikut bicara.
“Pokoknya Mila yang duduk disini, Rian silakan cari kursi yang lain”, jawab Mila dengan nada yang cukup keras. Semua teman-teman yang sejak tadi sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk ujian, sekarang memperhatikan mereka berdua.
Dengan kesal, Rian membereskan buku-bukunya dan mencari kursi yang lain. Hampir semua kursi telah di beri label, hanya beberapa kursi bagian depan yang tidak berlabel. Rian duduk di kursi paling depan, dekat dengan meja Pengawas Ujian. Sekilas Rian melihat ke belakang ke arah Mila. Gadis itu masih cemberut dan menulisi telapak tangannya dengan rumus-rumus sambil membalik-balik buku catatan. Di belakang Mila, Nora berlatih melihat buku catatan yang didudukinya. Pandangannya lalu dialihkannya ke Andi. Tenyata Andi sedang memegang catatan kecil dan sedang serius memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa melihatnya dan tidak diketahui pengawas. Hal ini membuat Rian menjadi semakin kesal. Ternyata ajakannya selama ini untuk tidak berlaku curang dalam ujian tidak ditanggapi sama sekali oleh teman-temannya.
Tepat jam delapan pagi, dua orang pengawas memasuki ruangan.
“Kumpulkan tas ke depan.” ucap salah seorang dari pengawas itu sambil merobek amplop materi ujian. Dalam hitungan detik, tas mahasiswa telah berjajar di bagian depan ruangan. Kedua pengawas itu mulai membagikan lembaran pertanyaan dan lembaran jawaban.
Sekilas Rian membaca lima buah pertanyaan yang diberikan. Rian tidak yakin dapat menjawab semuanya. Seolah-olah apa yang dipelajarinya semalam hilang dari benaknya. Mungkin karena dipaksa belajar sampai larut malam, otaknya menjadi tertekan, ditambah lagi kejadian sebelum ujian dengan teman-temannya yang membuatnya kesal. Rian terus berusaha mengingat-ngingat apa rumus struktur dari gliseraldehid; 2,2,4-trimetilpentana; sikloheksana pada pertanyaan pertama. Hanya 2,2,4-trimetilpentana yang bisa dijawabnya.
Rian beralih ke pertanyaan kedua. “Sebutkan tiga buah isomer dari C8H14!”. Hah, isomer? Rian tidak ingat sama sekali dengan yang namanya isomer. Rian terus berusaha mengingat-ngingat. Namun usahanya sia-sia, dia tidak ingat sama sekali. Pertanyaan ketiga, “Apakah produk yang dihasilkan jika metana direaksikan dengan gas klor dengan adanya cahaya?”. Hanya rumus metana dan gas klor yang diketahuinya. Produk dari reaksi ini tidak diketahui oleh Rian. Dua pertanyaan selanjutnya tidak diketahui Rian sama sekali. Perhatiannya dialihkan lagi ke pertanyaan satu. Hingga pertanyaan terakhir Rian masih tidak mempunyai gambaran jawaban yang akan ditulisnya. Dia putus asa, tak mampu lagi menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
Ruangan mulai ribut dengan bisik-bisik tertahan mahasiswa, saat salah seorang Pengawas keluar. “Mereka mulai lagi. Mengapa selalu begini?” Rian mengumpat dalam hati. Rian melayangkan pandangannya ke arah Pengawas. Tidak ada sedikitpun reaksinya terhadap suasana ribut ini.
Rian tidak bisa konsentrasi dengan ujiannya dan sekarang dia tidak lagi memikirkan ujiannya ini. Dia teringat pada hari Jumat lalu sebelum ujian. Dia harus berangkat pagi-pagi dan naik bus kampus pertama untuk menempel pamflet ajakan untuk jujur dalam ujian. Saat itu dia menempelnya di papan pengumuman dengan sembunyi-sembunyi, takut ketahuan oleh teman-temannya. Tapi pamflet itu tidak diperhatikan sama sekali oleh teman-temannya. Terbukti tidak ada perubahan yang terjadi. Begitu juga ajakannya kepada Andi, sobat karibnya. Sampai hari inipun Andi masih membuat catatan kecil “jimat”.
Rian melihat ke belakang ke arah Andi, sobat karibnya itu sedang membolik-balik catatan kecilnya, mencari jawaban pertanyaan sebanyak-banyaknya. Mila, gadis yang tadi mengusirnya juga sibuk bertanya ke teman yang duduk di sampingnya. Hampir semua temannya melakukan hal yang sama.
Rian semakin muak dengan situasi ini. Dia mulai memikirkan apa yang harus dilakukannya. Tiba-tiba muncul ide untuk memboikot ujian hari ini, dengan alasan mahasiswa tidak jujur dalam ujian. Namun ide ini langsung ditepisnya dan berusaha mencari ide yang lain. Beberapa menit berlalu, namun tidak ada ide lain yang muncul selain memboikot ujian ini.
Ruangan ujian semakin ribut. Pengawas yang tadi keluar belum kembali, sedangkan Pengawas yang satu lagi di ruangan ini hanya melamun sambil sesekali melirik jam tangannya. Rian tidak mengerti, apakah pengawas itu sengaja membiarkan mahasiswa ujian seperti ini atau tidak?.
Perlahan Rian menuju meja Pengawas Ujian sambil menyerahkan lembar jawaban yang hanya berisi sedikit jawaban pertanyaan.
“Pak, saya memboikot ujian ini.”
Si Bapak yang sejak tadi hanya berperan sebagai hiasan ruangan hanya diam.
“Saya memboikot ujian ini!!!. Rian semakin emosi, karena tidak ditanggapi sama sekali oleh pengawas tersebut.
“Apa masalahnya?”
“Bapak tidak melihat, apa yang dilakukan mahasiswa dalam ujian ini?”
Rian tidak mampu lagi menahan emosinya. Semua perhatian tertuju ke depan sekarang. Suara ribut yang sejak tadi menghiasi suasana ruangan kembali sunyi. Mereka tidak menyangka Rian akan nekat seperti itu.
“Mereka mencontek Pak, mereka melihat catatan kecil, bahkan ada yang melihat buku catatan. Apa bapak tidak tahu?.
“Asal tidak meribut, tidak apa-apa kan? jawab Bapak itu santai.
“Tapi mereka juga meribut Pak!!!.
“Mana? Gak ada ribut kan?, bapak itu memandang kearah mahasiswa yang sedang ujian untuk meyakinkan Rian. Memang pada saat itu, ruangan sunyi, karena semuanya memperhatikan Rian.
Muka Rian semakin memerah, dia tidak tahu lagi apa yang akan dilakukannya. Rian langsung mengambil tasnya dan keluar dengan perasaan yang campur aduk.
“Apa yang harus kulakukan. Aku tak mengira ini yang akan terjadi. Sepertinya, memang sudah tradisi. Bahkan sampai ketingkat pengawas ujian, hal ini tak jadi masalah. Tapi bagi Rian ini adalah masalah. Untuk apa belajar satu semester, jika dalam ujiannya masih berlaku curang.
Hal yang terpikirkan oleh Rian saat ini adalah menemui Dosen Mata kuliah Kimia Organik satu.
“Pak, saya membatalkan ikut ujian mata kuliah ini.” saat Rian bertemu dengan Dosen mata kuliah Kimia Organik yang berdiri di dekat pintu ruangan C1.8.
“Kok begitu, apa soal ujiannya sulit?” Tanya Bapak itu penasaran.
“Itu salah satunya Pak, masalah lainnya dan yang paling penting, mahasiswa tidak jujur dalam ujian Pak, hampir semua mahasiswa mencontek, ribut dalam ujian dan lihat catatan kecil sedangkan pengawas hanya diam saja”
“Coba sebutkan siapa saja mahasiswa yang melakukannya” Tanya Bapak itu.
“Hampir semuanya pak.”
“Siapa nama-nama mereka, biar nanti Bapak catat dan pertimbangkan nilai mereka”
“Saya harus menyebutkannya satu-satu Pak?”
“Ya”
“Saya tidak bisa menyebutnya satu-satu pak, Bapak lihat saja di Absen. Hampir semuanya berlaku curang”.
“Baiklah.” Kata Bapak itu.
“Terima kasih Pak.” Rian ragu apakah harus mengucapkan terima kasih atau tidak. Rian tidak lagi memikirkan ujiannya kali ini. Dia berlalu pergi dan langsung pulang ke rumahnya.
Keesokan harinya ujian Bahasa Inggris. Ujian dilakukan di ruangan A1.7 yang mampu menampung ratusan mahasiswa. Ujian dimulai jam 10 Pagi.
Saat memasuki ruangan semua mata memandang sinis pada Rian. Mereka masih tidak percaya, Rian mengadukan perbuatan mereka pada Dosen Mata Kuliah Kimia Organik itu.
“Bagaimana Ndi, ujiannya kemaren dapat?” Tanya Rian seolah tidak terjadi apa-apa dengan mereka.
Andi tidak menjawab pertanyaan Rian dan berlalu pergi untuk mencari kursi yang strategis lagi.
Rian tidak menyangka hal ini akan menimpanya. Semua teman-temannya sekarang menjauhinya. Bahkan sampai ujian berakhir dan waktu liburanpun tidak ada yang mau berbicara dengannya.
Kartu Hasil Studi (KHS) semester satu keluar beberapa minggu setelah perkuliahan semester genap dimulai. Hampir semua mahasiswa mendapatkan nilai D. Paling tinggi nilai C, itupun cuma beberapa orang. Rian sendiri mendapatkan nilai E. Rian bisa memaklumi, karena memang dia hanya menjawab pertanyaan pertama, itupun untuk poin satu saja. Namun teman-temannya tidak pernah bisa memaafkan Rian.
Ujian mid semester dua, dimulai hari senin. Rian telah terbiasa duduk di depan. Seperti biasanya semua teman-temannya masih melakukan hal yang sama dalam ujian, berlaku curang.
Hal yang sama terjadi sampai tahun keempat. Rian hanya menyebarkan pamflet ajakan berlaku jujur dalam ujian dan ditempelnya di papan pengumuman. Hanya itu yang bisa dilakukannya.
***
Di depan auditorium Unand, sedang berbaris calon wisudawan-wisudawati. Sebentar lagi mereka akan masuk ke auditorium Unand, untuk mengikuti acara wisuda tingkat Universitas. Rian dari jauh mengamati barisan mahasiswa FMIPA. Banyak diantara mereka adalah teman-teman seangkatannya. Disana berdiri Andi, Mila dan Nora. Betapa bahagianya mereka hari ini. Mereka bisa menyelesaikan masa studi tepat waktu, empat tahun. Namun ada suatu hal yang ganjil yang dirasakan Rian. Mereka sampai saat ini tidak memahami apa makna baju hitam putih yang selalu mereka pakai saat ujian dan seminar. Yang membuat Rian bangga adalah dia mengetahui makna hitam putih itu. Walaupun tidak wisuda hari ini, dia yakin bahwa kejujuran adalah modal yang sangat berarti untuk menyelesaikan studinya di jurusan ini. Dia sengaja memakai pakaian hitam putih hari ini, agar teman-temannya ingat akan kenangan pada hari dimana mereka mulai membenci Rian. Namun tak ada satupun mata yang menoleh pada Rian. Rianpun tak berani mendatangi mereka.
Padang, Agustus 2007
Guswanto



Recent Comments