Cari Muka
PENGUMUMAN
Bagi Pembina Asrama Putra janganlah sok cari muka kayak gitu, nanti dapat muka monyet. Udah jelek dapat muka monyet lagi. Gimanalah bentuknya tu.
Kalau mau dapat pujian Pak Rektor, gak begini caranya. Nyapu aja di rumah Pak Rektor, kalau ngak cuci mobilnya. Jangan kami yang dijadiin bahan buat dapat pujian.
LAI JALEH DEK ANG TU…
Kira-kira begitulah selebaran yang tertempel di dinding dekat tangga asrama putra pada malam tanggal 3 November 2008. Pada malam itu 2 blok dikumpulkan untuk sosialisasi peraturan dan pemeriksaan kehadiran mereka di asrama. Blok 1B dan blok 3A. Kedua blok ini adalah yang paling parah dalam absen subuh, sering meribut, dan melanggar peraturan lainnya. Tak heran jika ada yang berontak dan menulis selebaran diatas karena tidak senang dengan peraturan yang disampaikan. Padahal peraturan-peraturan itu adalah peraturan yang wajar.
“Cari Muka”. Topik hangat yang dia atau mereka besar-besarkan cuku membuat saya kesal. Cari muka gimana? toh saya ngerjakan tugas saya sebagai pembina. Tak ada sedikitpun ntuk cari muka. Pekerjaan ini lebih banyak bersifat sosialnya daripada money orientednya. Bayangkan, kerja itu menuntut anda untuk tidur cuma 4 jam sehari, dari jam 12 malam sampai jam 4 pagi. Ini adalah kenyataannya. Dari 4 jam itupun anda harus siap dibangunkan. Pernah sekali saya dibangunkan pukul 2 malam oleh seorang adik hanya untuk minta izin tidak pergi shalat subuh ke Mesjid. Dia masih mengerjakan tugas dan kelelahan. Ada juga dibangunkan oleh adik yang minta dijemput karena pulang dari kampung kemalaman dan tidak ada lagi kendaraan. Untung ada temannya seblok yang mau jemput. Untuk semua itu anda cukup dibayar dengan gaji dibawah 1 juta rupiah. Kalau dibandingkan dengan gaji S1, itu tidak ada apa-apanya.
Tapi itu tidak masalah. Saya mendapatkan apa yang saya inginkan disini. Saya bisa berdakwah kepada mereka. Saya belajar banyak disini bagaimana cara menghadapi orang. Pernah ada kelakar dari para pembina sewaktu rapat. 4 bulan menjadi pembina di asrama sama dengan memperoleh pengalaman 4 tahun lamanya. Ini memang betul. Cuma orang-orang yang ikhlas saja yang bisa bertahan di sini.
Shalat subuh berjamaah di masjid merupakan momok yang begitu menyiksa bagi sebagian anak asrama. Mereka inilah yang sering mendapat Surat Peringatan. Mereka selalu beralasan banyak tugas, ada ujian, telat tidur dan sebagainya. Bahkan ada yang keluar dari asrama karena adanya program ini. Betul kata Rasulullah dalam Hadisnya. Orang-orang munafik itu dapat dilihat dari Shalat Subuh dan Isya berjamaah di Masjid. Seandainya mereka tahu bagaimana manfaat shalat Subuh dan Isya itu, pasti mereka akan berusaha shalat berjamaah ke Mesjid walaupun berangkat dalam keadaan merangkak.
Sampai sekarang saya belum menemukan pelaku yang menempel selebaran tersebut. Malam itupun saya langsung membuat tulisan juga dan menempel di dinding di bawah selebaran itu. Isi tulisan saya tersebut seputar keikhlasan saya berkorban untuk mereka dengan gaji kecil, tidak ada sama sekali terbersit dalam hati untuk cari muka di hadapan rektor (sama saja dia atau mereka menuduh saya syirik-na’udzubillah-. Bukankah kita hanya diperbolehkan cari muka di hadapan Allah SWT). Tulisan saya itu juga berisi permohonan maaf saya jika ada salah dan kekhilafan, insyaAllah saya akan memperbaiki diri saya dan menantang mereka untuk mengambil gaji saya semuanya jika mereka juga mau.
Sekali lagi. Saya melakukan semua itu dengan ikhlas. Hanya karena Allah. Karena itulah saya bisa bertahan untuk menjadi Pembina di Asrama Putra Unand dengan segala bentuk tantangannya. Mudah-mudahan dia atau mereka mau mengerti.



Recent Comments