Dinginnya selasa malam, 18 November 2008 yang diiringi dengan hujan rintik-rintik tidak membuat kami mengurung diri di kamar masing-masing. Kami duduk di kursi-kursi tempat belajar di lantai dasar Asrama Mahasiswa Putra Unand. Walau tidak semua anggota kelompok yang hadir, namun kami tetap melakukan FGD (Focuss Group Discussion) disana. Kebetulan sehari sebelumnya, salah seorang dari adik-adikku itu on air di RRI pro 1 membahas UU pornografi. Heru menyampaikan sekilas pandangannya tentang UU pornografi, termasuk pro dan kontra yang terjadi saat dirinya on air di radio tersebut. Intinya, walaupun UU tersebut telah disahkan, masyarakat masih terbagi dalam dua kubu yang saling bertentangan. Ada yang pro dan ada yang kontra. Yang Pro tentunya merasa puas dengan penetapan UU Pornografi tersebut. UU yang telah diperjuangkan selama 10 tahun itu ditetapkan beberapa waktu yang lalu di gedung para wakil rakyat diiringi aksi walk out oleh fraksi PDS dan PDIP. Fraksi PDS jelas, mereka kaum kristen yang paranoid ditegakkannya syariat Islam di Indonesia. Menurut mereka UU Pornografi adalah produk Islam yang wajib dihalangi bagaimanapun caranya. PDIP pun mempunyai alasan yang kuat untuk tidak setuju karena basis konstituen mereka berada di Bali dan dari kalangan nasionalis sosialis yang jauh dari Islam. Yang kontra selalu saja mempersoalkan daerah-daerah yang masyarakatnya sering “buka-bukaan” seperti Bali dan papua. Satu lagi opini yang berkembang di kalangan kubu yang kontra adalah UU pornografi tidak akan berjalan efektif. Mereka pesimis UU ini akan dijalankan dengan baik. Sutralah… Orang2 yang kontra. Selamat berjuang di jalan yang salah…
Diskusipun berlanjut. Aku menambahkan, itulah salah satu produk dan bentuk keberhasilan dari Ghazwul Fikri (perang pemikiran) yang dilancarkan oleh non-muslim. Bahkan kubu yang kontra dengan UU itu adalah orang yang mengaku Islam. Tapi jalan hidup yang dipilihnya selain dari Islam. Tanya kenapa…? Ya, karena mereka korban dari perang pemikiran tersebut. Sebut saja JIL, Kaum Hedonis, pelaku Pornografi, Aktivis HAM kebingungan, para orientalis sok pintar, Antek-antek yahudi dan Nasrani yang jual agama untuk uang dan orang-orang yang nganggap pornografi itu adalah jalan hidup. Selamat berjuang juga deh dijalan yang salah…
Setelah dibaca-baca, UU tersebut tidak ada yang janggal. Bahkan sangat sesuai sekali dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Tapi, kok masih ada yang tidak setuju ya…? tanya Kenapa…?

Selanjutnya, muncul pertanyaan dari seorang peserta FGD tentang kondisi yang sekarang dia lihat. Dia menanyakan bagaimana Islam dipahami oleh seorang cewek?. Fenomena yang terjadi adalah para cewek-cewek berjilbab itu tidak tau diri sama sekali. Mereka dekat dengan cowok, bahkan sering melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh yang bukan mahram. Dia bercerita tentang pengalamannya minggu lalu ketika nginap di tempat teman dekat taplau (Muaro Padang). Pada malam itu banyak sekali pasangan muda-mudi bermesraan di tepi pantai. Dia melihat sebagian besar ceweknya berjilbab. Dia bertanya-tanya. Buat apa para cewek itu berjilbab, toh perbuatannya sama saja dengan cewek biasa yang tak berjilbab?. Mereka seolah-olah mempertontonkan Islam seperti itu. Tidak seharusnya mereka menyandang predikat cewek berjilbab jika perangainya sama saja dengan gadis nakal yang mudah saja dipreteli oleh para lelaki. Bahkan adik itu bilang, tidak usah saja mereka pakai jilbab, kalau perangainya merusak citra Islam.
Kepada saudari-saudariku yang berjilbab.
Jadikanlah dirimu laksana mutiara di dasar lautan. Butuh pengorbanan yang besar untuk mendapatkanmu dan itu karena kamu begitu berharga.
Jangan jadikan dirimu pisang goreng yang dijual di tepi jalan yang mudah diotak-atik oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Ingat kamu begitu berharga. Jangan permalukan Islam dengan perbuatanmu. Secara tidak langsung kamu punya andil menjauhkan hidayah dari orang-orang yang berhak menerimanya ketika kamu yang berjilbab melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak pantas itu. Ingat, kamu diperhatikan.
Kalau ada seorang cowok yang begitu tampan menurutmu, ingin menjadikanmu pacarnya, tantang dia. Apakah dia mau menikahimu dalam waktu 3 (tiga) bulan?. Jika dia ragu, suruh saja dia balik kanan dan pulang ke orang tua yang akan memanjakannya.
Recent Comments