Cahaya Itu Mulai Redup
Selasa kemaren, tanggal 19 Agustus 2008 aku berkesempatan pulkam ke Padang panjang. Kira-kira jam 9.30 malam aku sampai di rumah. Pintu depan ternyata tidak terkunci, aku langsung masuk dengan mengucapkan salam. Hatiku sedih, biasanya rumahku selalu ceria dengan penerangan yang memadai. Tapi malam itu, suasana begitu sepi, tidak ada suasana ramai seperti dulu. Lampu tengah yang biasanya bersinar terang, kini hanya bersinar seperti lampu 5 watt saja. Di kamar tengah aku temui dua orang adikku. Riko, adikku yang sudah kelas 3 di SMA 1 Pd panjang sedang serius belajar untuk ujian esok, sedangkan Alvi, adikku yang baru kelas 1 di SMP 1 Pd panjang sudah terlelap. Aku tak amau menganggu mereka.
Kakak dan pamanku berada di kamar belakang. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku kembali ke ruang tengah dan duduk di kursi menenangkan diri. Perutku yang belum diisi sejak tadi siang tidak kuhiraukan. Aku teringat kalau aku belum shalat Magrib dan Isya. Aku segera berwudhu dan menjamak kedua shalat ini. Saat waktu kedua shalat itu masuk, aku sedang dalam perjalanan.
Kalau Ramadhan tahun lalu kami tidak ditemani oleh Ibu, Ramadhan kali inipun kami harus melewatinya tanpa Ayah. Memang semuanya telah diatur oleh Allah SWT, tapi aku ingin cahaya itu kembali bersinar di rumahku. Membuat senyum gembira di wajah adik dan kakakku.



Recent Comments