Archive

Archive for March, 2008

April Mop, Tragedi Pembantaian Umat Islam Spanyol

March 31, 2008 guswanto Leave a comment

dari eramuslim.com

Tiap tanggal 1 April, ada saja orang—terutama anak-anak muda—yang merayakan hari tersebut dengan membuat aneka kejutan atau sesuatu keisengan. April Fools Day, demikian orang Barat menyebut hari tanggal 1 April atau lebih popular disebut sebagai ‘April Mop’. Namun tahukah Anda jika perayaan tersebut sesungguhnya berasal dari sejarah pembantaian tentara Salib terhadap Muslim Spanyol yang memang didahului dengan upaya penipuan? Inilah sejarahnya yang disalin kembali sebagiannya dari buku “Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Halloween: So What?” (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2005)

SEJARAH APRIL MOP

Perayaan April Mop yang selalu diakhiri dengan kegembiraan dan kepuasan itu sesungguhnya berawal dari satu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan. April Mop atau The April’s Fool Day berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487 atau bertepatan dengan 892 H. Sebelum sampai pada tragedi tersebut, ada baiknya menengok sejarah Spanyol dahulu ketika masih di bawah kekuasaan Islam.

Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah bisa dibebaskan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walau sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Goth dan Navaro di daerah sebelah Barat yang berupa pegunungan.

Islam telah menerangi Spanyol. Karena sikap para penguasa Islam begitu baik dan rendah hati, maka banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan hanya beragama Islam, namun mereka sungguh-sungguh mempraktekkan kehidupan secara Islami. Mereka tidak hanya membaca Al-Qur’an tapi juga bertingkah laku berdasarkan Al-Qur’an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.

Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun mereka selalu gagal. Telah beberapa kali dicoba tapi selalu tidak berhasil. Dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam di Spanyol. Akhirnya mata-mata itu menemukan cara untuk menaklukkan Islam di Spanyol, yakni pertama-tama harus melemahkan iman mereka dulu dengan jalan serangan pemikiran dan budaya.

Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirim alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari ketimbang baca Qur’an. Mereka juga mengirim sejumlah ulama palsu yang kerjanya meniup-niupkan perpecahan di dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.

Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai pasukan Salib. Penyerangan oleh pasukan Salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang idbantai, juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua, semuanya dihabisi dengan sadis.

Satu persatu daerah di Spanyol jatuh, Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara Kristen terus mengejar mereka.

Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara Salib mengetahui bahwa banyak Muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara Salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar dari Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka. “Kapal-kapal yang akan membawa kalian keluar dari Spanyol sudah kami persiapkan di pelabuhan. Kami menjamin keselamatan kalian jika ingin keluar dari Spanyol, setelah ini maka kami tidak lagi memberikan jaminan!” demikian bujuk tentara Salib.

Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Beberapa dari orang Islam diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah dipersiapkan, maka mereka segera bersiap untuk meninggalkan Granada bersama-sama menuju ke kapal-kapal tersebut. Mereka pun bersiap untuk berlayar.

Keesokan harinya, ribuan penduduk Muslim Granada yang keluar dari rumah-rumahnya dengan membawa seluruh barang-barang keperluannya beriringan jalan menuju pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai tentara Salib bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumahnya. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara Salib menggeledah rumah-rumah yang telah itinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika para tentara Salib itu membakari rumah-rumah tersebut bersama orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya.

Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan hanya bisa terpana ketika tentara Salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang tentara Salib itu telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.

Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara Salib itu segera membantai dan menghabisi umat Islam Spanyol tanpa perasaan belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Dengan buas tentara Salib terus membunuhi warga sipil yang sama sekali tidak berdaya.

Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman. Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia Kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The Aprils Fool Day).

Bagi umat Islam April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya seiman disembelih dan dibantai oleh tentara Salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas jika ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Sebab dengan ikut merayakan April Mop, sesungguhnya orang-orang Islam itu ikut bergembira dan tertawa atas tragedi tersebut. Siapa pun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, beberapa abad silam.(rizki)

Categories: opini

Memoar si Penari Kipas

March 26, 2008 guswanto 1 comment

Bagi yang telah membaca novel ini, mungkin judul tulisan ini tidak layak dan cukup vulgar, namun saya tetap memakai judul ini karena memang ini adalah salah satu andalan tokoh utama novel ini dalam memikat sang kaisar. Mungkin hal ini tidak saya bahas lebih lanjut, karena tidak pantas dibuat di blog ini. Saya lebih tertarik pada keinginan yang tinggi pada diri si Maharani untuk belajar mengenai politik padahal ketertarikannya itu adalah sesuatu yang tidak pantas dilakoni oleh seorang selir kaisar.

Alur cerita “Empress Orchid” karangan Anchee Min ini biasa-biasa saja, tapi penjelasan yang detail merupakan sebuah keunggulan dari novel ini. Kita bisa membayangkan bagaimana suasana “The Hidden City” pada masa kekaisaran Ch’ing yang di pegang oleh bangsa Manchu di Cina.Kita bisa membayangkan mengenai kemegahannya, keindahan dan mahalnya baju-baju yang dipakai oleh penghuninya, serta betapa menyedihkannya kebutuhan biologis seorang kasim dimusnahkan. Kita bisa membayangkan betapa kacaunya berbagai macam kepentingan yang saling bertabrakan sesama penghuni istana. Kita bisa merasakan bagaimana perasaan seorang kaisar yang merupakan satu-satunya lelaki yang diperebutkan oleh tiga ribu perempuan di sebuah tempat yang terisolasi dari dunia luar dengan kondisi negara yang mulai diserbu pihak asing. Kita bisa memahami betapa menderitanya selir-selir yang tak kunjung dipanggil oleh kaisar ke peraduannya sampai mereka tua dan tidak cantik lagi ditambah kulit yang mulai menggelambir. Sebuah tatanan kehidupan yang menurut saya tak masuk akal. Begitu banyak orang yang menderita. Hak mereka sebagai manusia tidak mereka dapatkan dengan layak.

Bagaimanapun Maharani Anggrek patut dihormati sebagai seorang yang mampu berpikir jauh. Dia memberanikan diri untuk melanggar tatanan kehidupan istana dengan mulai belajar dan ikut serta dalam politik. Sifatnya ini sangat berlawanan dengan Nuharoo, sang permaisuri yang cendrung bertahan dengan tradisi yang ada yang justru menunjukkan dia lemah dan tak mampu memikat sang kaisar untuk memberikan keturunan. Maharani Anggrek mampu memberikan keturunan seorang putra mahkota bernama Tung Chih yang menggantikan ayahnya dalam usia sangat muda. Bagaimanapun intrik yang diciptakan oleh maharani Anggrek yang cendrung negatif namun Anchee Min mampu mencitrakannya sebagai probadi yang dan patut dibela.

Dalam novel ini Anchee Min ingin menunjukkan, perempuan dalam sejarah cina bukanlah orang-orang yang patut dipandang negatif seperti halnya sejarah Cina saat ini. Dia berusaha menemukan fakta-fakta bahwa perempuan seperti Madam Mao dan Maharani Anggrek tidak patut dipersalahkan dalam kebangkitan dan keruntuhan Cina.

Novel yang cukup menarik. Terimakasih kepada Zul”alief”in yang telah meminjamkan novel ini.

Categories: opini

Mencium Tangan yang Menampar Wajah Kita

March 14, 2008 guswanto Leave a comment

(Inspired by Yvonne Ridley)

Yvonne Ridley mungkin nama yang pernah ku dengar beberapa tahun lalu. Namun aku baru tahu sepak terjang beliau setelah membaca buku berjudul “Dari Penjara taliban Menuju Iman” karya Anton Kurnia, terbitan Mizan (Makasih Dolla, telah meminjamkan buku bagus ini).

Salah satu hikmah yang dapat dipetik dari pengalaman hidup Yvonne adalah saat beliau merasa bersyukur ditawan oleh Taliban di Afghanistan daripada militer Amerika. Bayangkan sepuluh hari Yvonne ditawan oleh taliban, beliau tidak pernah merasakan perlakuan buruk. Bahkan Yvonne dianggap sebagai tamu yang kebetulan datang tanpa diundang dan illegal, hanya itu. Malah beliaulah yang melakukan perbuatan buruk dengan mencaci maki orang-orang yang berusaha menginterogasi dan berusaha memenuhi kebuthan hiduonya sehari-hari selama ditawan. Yang mencengangkan adalah Yvonne malah dibebaskan sehari setelah Amerika dan sekutunya mulai melancarkan serangan ke Afghanistan pada 8 Oktober 2001. Tidak ada sedikitpun dendam penduduk Afghanistan padanya yang berkewarganegaraan Inggris saat beliau dibebaskan. Padahal malam sebelumnya Amerika termasuk Inggris melakukan serangan udara ke Kota kabul yang menghancurkan berbagai fasilitas dan membunuh penduduk sipil. Yvonne sangat kagum kepada penduduk Afghanistan pada saat itu.

Bila dibandingkan dengan penjara yang dikelola oleh militer Amerika, Yvonne tidak dapat membayangkan bagaimana dirinya ketika dipenjara oleh mereka. Sebut saja Guantanamo, Diego Garcia, Bandara Bagram di Afghanistan, Abu Ghraib, dan penjara rahasia lainnya di seluruh dunia yang dikelola militer Amerika. Mungkin kita semua telah mengetahui bagaimana sadis dan mengerikannya perlakuan militer Amerika terhadap tahanannya.

Hikmah lainnya adalah ketika Yvonne menepati janjinya untuk belajar Islam kepada seorang ulama Afghanistan yang mendatanginya saat ditawan. Ulama itu menanyakan apa pendapat Yvonne terhadap Islam dan maukah Yvonne untuk masuk Islam?, Karena pada saat itu Yvonne mengaku dirinya beragama kristen protestan. Saat ditawan Yvonne tidak mampu menjawab karena dia tidak mungkin memutuskan mengubah jalan hidupnya dalam waktu yang singkat. Yvonne berjanji akan mempelajari Islam setelah dia dibebaskan dan kembali ke negara asalnya. Janji itu ditepati Yvonne. Setelah mengalami pergolakan batin yang panjang dan dibimbing oleh beberapa ulama terkenal di Inggris, Yvonne akhirnya menyatakan diri mengubah keyakinannya kepada Islam dan mengubah kebiasaan hidupnya menjadi lebih baik. 

Yvonne tetap menjadi jurnalis profesional walaupun beliau telah menjadi seorang muslimah. Yvonne aktif dalam gerakan memperbaiki pandangan barat terhadap Islam dan aktif menulis dengan kritikan-kritikan tajam terhadap pemimpin-pemimpin dunia yang memusuhi Islam. Yvonne senantiasa mengejek para pemimpin negara Islam yang tunduk kepada negara barat terutama Amerika dengan ucapan “Jangan mencium, tangan yang menampar wajah kita”. Semangat Buk….. Allahuakbar…

Itu sedikit pelajaran yang saya ambil dari perjalanan hidupnya Yvonne. Mudah-mudahan beliau tetap istiqomah dalam perjalanan hidupnya, amin. 

Mohon izin membuat link situs Ibu di blok saya. 

Syukran Jazakallah 

Categories: opini

Seharga π (phi)

March 7, 2008 guswanto Leave a comment

“Kami sebagai pembimbing kecewa dengan anda”. Kalimat ini terucap diakhir ujian kompre (ujian sarjana) oleh Pak Ong, pembimbing tugas akhir saya. Walaupun dinyatakan lulus dan meraih gelar sarjana namun saya tetap tak mampu menahan air mata menyesali diri saya yang telah mengecewakan pembimbing-pembimbing saya pada saat itu. Ditambah lagi dengan nasehat dari Pak Ong mengenai hubungan saya dengan ayah yang telah lama renggang. Butuh waktu satu jam bagi saya untuk menenangkan diri setelah ujian, di sebuah ruangan kosong di lantai tiga jurusan kimia.

Pada saat ujian, saya tidak mampu menjawab sebagian besar pertanyaan dosen yang muncul dari skripsi saya. Saya seolah-olah mati kutu terhadap pertanyaan mengenai difraksi, foton, fluorescen, polymorphism, sinar x, reaksi-reaksi kimia dalam skripsi saya, mengapa saya memilih metoda karbonasi, apa kelebihannya dibanding metoda lain, reaksi pengionan dan beberapa pertanyaan lainnya. Pertanyaan yang seharusnya bisa saya jawab, tidak pernah muncul dari lisan saya saat ujian. Menurut saya, siswa SMApun mungkin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, namun mengapa saya tidak bisa?

 

Evaluasi pertama saya adalah karena adanya sesuatu yang belum saya selesaikan dan lunasi. Setelah menelusuri masa-masa penelitian ternyata saya masih berhutang kepada “Dwipraga”. “Dwipraga” merupakan penyedia alat-alat dan bahan kimia yang berada di daerah Anduring Padang. Saya memesan gas CO2 disana. Saya masih berhutang Rp. 350.000 kepada “dwipraga” untuk biaya pembelian gas CO2 dan ongkos kirim, karena harus dipesan ke Jakarta. Sampai sekarang saya masih belum melunasinya dan gas CO2 tersebut beserta tabungnya masih berada di “Dwipraga”. Hal ini mungkin menjadi salah satu penyebab tidak maksimalnya saya pada saat ujian.

Evaluasi kedua adalah waktu yang terlalu singkat untuk persiapan. Alasan ini memang tak pantas saya sebut, karena saya punya waktu 4 tahun untuk persiapan ujian sarjana. Namun saya tetap menambahkan point ini dalam lembaran evaluasi ujian kompre, karena hal ini benar-benar mempengaruhi ujian saya. Setelah seminar hasil penelitian pada selasa, 26 Februari 2008 jam 16.15, ada banyak perbaikan terhadap skripsi saya. Oleh karena itu saya harus memperbaiki lagi skripsi tersebut dan baru mendapat accept Pak Ong sehari setelahnya. Ternyata syarat-syarat pendaftaran ujian sarjana cukup banyak. Saya baru bisa melengkapinya pada Jumat sore tanggal 29 Februari 2008, sehingga saya belum bisa mendapat jadwal ujian sarjana pada hari itu. Pak Hasnirwan selaku Koordinator Pendidikan berjanji akan membuat jadwal pada Senin pagi tanggal 3 Maret 2008. Di akhir minggu saya berusaha mengumpulkan semua buku-buku yang akan saya pelajari untuk ujian nanti. Saya meminjam buku-buku yang saya butuhkan ke beberapa orang teman dan mengatur strategi agar saya bisa belajar semaksimal mungkin sebelum ujian. Senin pagi, tanggal 3 Maret 2008 saya sudah standby di jurusan Kimia. Ternyata Pak Hasnirwan baru bisa mengeluarkan jadwal pada siangnya. Saya diputuskan ujian pada esoknya yaitu Selasa tanggal 4 Maret 2008 jam 8 pagi karena jadwal ujian sarjana sangat padat dan juga ada memo dari Pak Ong kepada ketua jurusan yang berisi permintaan agar ujian saya dilakukan pada hari Selasa itu. Saya sendiri berharap jadwal ujian saya pada hari Rabu atau Kamis, tidak hari Selasa, karena persiapan saya masih minim Namun bagaimana lagi, tak ada jadwal lain. Seandainya tidak hari itu, mungkin saya susah sekali untuk mendapatkan jadwal ujian karena jadwal yang sangat padat. Siang itu saya bekerja keras untuk bisa memberikan semua undangan dan skripsi kepada semua dosen penguji. Ada lima dosen penguji dan dua diantaranya adalah dosen pembimbing tugas akhir saya yaitu Pak Ong (Prof. Dr. Novesar Jamarun) dan Pak Syukri (Dr. Syukri Arief, M.Eng). Tiga orang lagi adalah Prof. Dr. Hamzar Suyani, Ibu Imelda MSi dan Pak Drs.Yusri Gondok. Pak Ong dan Pak Syukri dapat saya temui di jurusan, karena saat itu diadakan seminar hasil penelitian dari Mardalia dan Reni Anggaraini, teman selabor di laboratorium Kimia Material. Pak Hamzar saya temui di ruangannya di lantai 2 Rektorat Unand. Ibu Imel saya temui di Jurusan Kimia pada sore harinya. Pak Yusri Gondok saya temui di rumah beliau di daerah Belimbing, Padang pada sore harinya. Setelah itu saya pergi ke rumah teman untuk meminjam beberapa buku lagi yang masih saya perlukan. Sesampai di rumah, badan saya sangat letih sekali dan rencana saya untuk belajar semaksimal mungkin pada malam itu diisi dengan perasaan ngantuk tak tertahankan. Saat akan ujian pada paginya, saya masih ragu dengan ujian saya karena persiapan yang tidak maksimal. Itulah salah satu penyebab mengapa Ujian Sarjana saya hancur.

Evaluasi ketiga adalah malas berdiskusi dengan dosen pembimbing, sehingga menyebabkan buruknya penampilan saya saat menjawab pertanyaan-pertanyaan ujian. Entah mengapa, saya selalu merasa takut untuk menemui dosen pembimbing saya. Padahal mereka selalu bersedia jika saya ingin bertemu dan berdiskusi. Walaupun Pak Ong adalah PR I (Pembantu Rektor I) dengan jadwal yang padat namun beliau selalu bisa ditemui setiap harinya, jam 07.30 pagi atau sorenya sehabis shalat ashar di ruangan rektorat lantai 1, jika beliau tidak keluar kota. Pak Syukri apalagi. Beliau adalah dosen yang sering berada di jurusan kimia jika tidak ada kuliah atau kegiatan lainnya. Beliau baru pulang setelah shalat ashar. Mereka adalah dua orang dosen yang patut diteladani dalam hal amanah dan bersungguh-sungguh terhadap pekerjaan dan profesi mereka. Seringkali saya bingung saat sesekali bisa berdiskusi dan kehilangan bahan untuk didiskusikan, sehingga pertemuan-pertemuan dengan dosen pembimbing tidak pernah lebih dari 10 menit. Saya juga tidak berani menyinggung lebih banyak mengenai segala sesuatu di luar tugas akhir saya. Oleh karena itu, kedekatan saya dengan pembimbing tidak meningkat sama sekali. Seringkali terjadi basa-basi yang menurut saya tidak patut terjadi. Seharusnya terjadi kedekatan hati dengan pembimbing dan saling mempererat tali silaturahmi. Namun saya beda, bahkan sampai sekarangpun saya tidak pernah mengunjungi rumah pembimbing saya. Menyedihkan…

Evaluasi keempat adalah kurang percaya diri saat ujian. Saya akui memang saat ini terjadi krisis percaya diri dalam diri saya. Saya mencoba menelusuri track record kehidupan saya sejak kecil. Sejak umur 10 tahun sampai saya menginjakkan kaki di kampus Unand adalah saat-saat dimana saya selalu ingin menjadi yang terbaik. Sejak kelas lima SD sampai SMF, saya tidak pernah mengalami sesuatu yang namanya “Peringkat kelas dibawah tiga besar”. Bahkan saya merupakan salah satu lulusan terbaik SMF YIB Bukittinggi pada tahun 2003. Disaat teman-teman sesama alumni SMF melabuhkan kehidupannya di apotik-apotik dengan gaji yang tidak lebih dari satu juta perbulan, saya malah mengikuti bimbel di Padang dan berusaha keras untuk lulus di Perguruan Tinggi Negeri tepat pada tahun kelulusan saya. Pada tahun pertama kuliah, disaat teman-teman seangkatan sibuk dengan akademik dan kegiatan pembinaan mahasiswa baru yang menyita waktu, saya malah memberanikan diri mendaftar untuk menjadi pengurus BEM KM Unand periode 2004-2005, mengikuti wawancara dan akhirnya diterima, padahal saya tidak punya pengalaman organisasi sama sekali. Saat di BEM itulah saya mengenal banyak karakter orang, mengenal pergerakan mahasiswa, mengenal sistem organisasi dan banyak pelajaran berharga lainnya. Saya sangat senang sekali menyibukkan diri dengan hal-hal yang positif. Sampai akhirnya saya dipilih menjadi ketua umum KKM LP2I FMIPA Unand sampai meletakkan jabatan sekitar bulan Mei 2007. Setelah itu, saya tidak lagi terlibat aktif berorganisasi. Saat-saat inilah rasa percaya diri saya mulai menurun. Seringkali saya hanya menjadi penonton di saat teman-teman dan adik-adik bekerja keras menyelenggarakan sebuah kegiatan dan berdiskusi. Yang bisa saya lakukan cuma duduk, diam, sesekali memberi semangat, cuma itu. Saya sangat rindu sekali untuk terus aktif berkegiatan, namun saya tidak menemukan tempat yang tepat. Percaya diri saya terus merosot. Saya tidak lagi Agus yang energik, yang bersemangat menempel 300 pamflet sendirian di seluruh wilayah kampus Unand Limau Manih dengan berjalan kaki.

Saya sangat ingin sekali mempunyai semangat seperti dulu lagi. Ujian sarjana yang hancur merupakan pukulan telak terhadap diri saya. Namun bukan berarti saya menyerah. Saat ini saya mulai menata diri kembali dan ingin membuktikan bahwa saya adalah seseorang yang bisa diandalkan. Saya ingin mewujudkan impian-impian yang saya susun dalam peta kehidupan saya beberapa tahun yang lalu. Masih banyak yang harus saya lakukan. Salah satunya saya ingin menyelesaikan studi S3 di luar negeri pada tahun 2015 saat saya berumur 30 tahun. Mudah-mudahan saya mampu menghilangkan kekecewaan Pak Ong dan Pak Syukri, pembimbing saya. Saya akan berusaha. Mereka adalah orang pertama yang akan saya temui untuk meminta rekomendasi ketika akan melanjutkan studi S2 nanti. Mudah-mudahan mereka bersedia. IPK 3,14; seharga π (phi) merupakan salah satu bukti kalau saya mampu. Saya masih ingin menjadi yang terbaik.

Wisma Mujahid Kamar 5

Padang, 5 Maret 2008 pukul 22.20 WIB

Categories: About me