Ditulis 6 Februari 2008
Beberapa hari menjelang mukhayam, kota Padang sering diguyur hujan, sehingga banyak diantara calon peserta mukhayam yang mengurungkan niatnya untuk ikut. Jumlah peserta yang semula ditargetkan panitia sebanyak 200 orang tidak tercapai, yang ikut hanya sekitar 150-an orang. Alhamdulillah ternyata sebagian besar acara mukhayam diiringi dengan cuaca cerah dan malam berbintang. Disini semangat calon peserta diuji. Siapa yang berani dan siapa yang penakut.
Perjalanan dimulai dari Jati pada hari jum’at, 1 Februari 2008 jam 15.30, oleh rombongan pertama. Rombonagan ini berjumlah setengah dari peserta, karena kendaraan yang disediakan panitia cuma satu. Saya ikut pada rombongan pertama, bersama dengan empat orang anggota kelompok lainnya. Empat orang yang lain terpaksa tinggal, untuk berangkat pada rombongan kedua. Sekitar pukul 16.15 kami sampai di lokasi mukhayam di daerah Sei Bangek. Tenda posko panitia telah berdiri sebelum kami datang. Terlihat panitia sibuk mengatur barang-barang mereka. Sebelum mendirikan tenda kelompok, kami shalat ashar di dekat tenda posko panitia.
Saya tergabung dalam kelompok enam belas. Jumlah anggotanya sembilan orang dan saya ditunjuk menjadi ketua. Ada dua puluh kelompok yang ikut yang berarti ada dua puluh tenda yang akan berdiri di sekitar tenda posko. Panitia telah mengatur sedemikian rupa letak masing-masing tenda. Dimulai dari bagian kanan tenda posko selanjutnya berderet membentuk lingkaran dengan lapangan di depan tenda posko sebagai pusat lingkarannya. Tenda kami didirikan cukup jauh, karena daerah di sekitar pancang yang ditancapkan panitia tempat didirikannya tenda kami, direndam oleh air hujan. Kami berinisiatif untuk mencari tempat yang kering dan lebih tinggi sehingga terhindar dari genangan air ketika hari hujan nantinya.
Setelah acara pembukaan, kami semua berkumpul di tenda masing-masing untuk persiapan shalat dan makan malam. Taujih oleh seorang ustadz disampaikan setelah Isya. Kandungan taujih yang diberikan berupa 3 pegangan berjuang di jalan Allah yaitu syukur nikmat, orientasi akhirat, dan keikhlasan. Mulai pukul sebelas malam, setiap tenda diwajibkan untuk melakukan dirosah (jaga-jaga) sampai jam tiga pagi. Saya dapat giliran jaga shift terakhir dengan seorang teman, dimulai dari jam dua sampai jam tiga. Setelah itu qiyamullail, shalat shubuh dan dilanjutkan dengan kultum. Seusai kultum semua peserta disuruh memakai pakaian lapangan dan siap untuk Riyadoh. Sebelum riyadoh dilakukanm evaluasi dirosah tadi malam. Ada beberapa kelompok yang kecolongan, ada yang kehilangan sandal, sepatu, ransel, dan sebagainya, semuanya itu dicuri oleh panitia saat mereka lengah. Mereka diberi hukuman push up oleh instruktur. Alhamdulillah barang-barang kelompok kami tidak ada yang dicuri. Pagi itu setiap kelompok menyampaikan nama kelompok masing-masing berupa nama-nama sahabat Rasulullah dan yel-yel kelompok. Saat menentukan nama kelompok, semua kelompok tidak dibenarkan melakukan kompromi denga kelompok lain untuk memilih nama kelompok. Setiap kelompok dengan nama yang sama diwajibkan mempersiapkan wakilnya untuk melakukan gulat untuk mempertahankan nama tersebut dan kelompok mana yang pantas memakai nama tersebut. Kelompok saya memilih nama “Hanzalah, sahabat yang dimandikan malaikat”. Ada satu lagi kelompok yang memakai nama yang sama, sehingga kami harus mempersiapkan wkil kami untuk gulat. Saat gulat, kelompok kami kalah sehingga harus mengganti nama kelompok. Akhirnya kami sepakat Zubair bin Awwam sebagai nama kelompok kami. Pagi itu dilakukan pengenalan medan di sekitar lokasi perkemahan. Di sini terlihat betapa kuatnya semangat keikhlasan. Seluruh peserta bermandikan lumpur padahal hanya dipandu oleh dua orang instruktur. Kami disuruh masuk ke kolam bekas penggalian, dan merayap di selokan lumpur. Saat itu kami sempat ngobrol diantara peserta. “Seandainya sekarang ini OSPEK, pasti kedua instruktur itu tidak akan selamat dan kami kembali ke tenda dalam keadaan bersih dan segar”. Namun saat ini kondisinya lain. Kami datang dengan keikhlasan, berharap kekuatan jasmani kami dilatih, mempererat dan mengenal lebih jauh sesama ikhwah, dan meningkatkan ruhiyah. Yah, gimana lagi, jalani saja. “Kan belum disuruh merayap diatas kotoran?”, kelakar seorang ustadz. Pengenalan medan (ma’rifatul medan) diakhiri dengan mandi di sungai. Wuih…Asyik…sajuak bana!. Sebelum shalat zuhur, terdapat sesi tali-temali. Pada sesi ini peserta dibagi menjadi 5 kelompok dan disuruh membuat tandu.
Setelah shalat zuhur dan makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan outbound. Ada enam buah outbound yang disiapkan panitia dengan durasi masing-masingnya 20 menit. Outbound tersebut adalah merayap di lumpur, human tower, human leader, pipa bocor, electric net dan spider web. Outbound berakhir pada waktu ashar. Sebagian peserta sudah mulai mandi dan bersih-bersih di sungai, karena mereka mengira acara sudah berakhir. Ini mukhayam yang ketiga bagi saya, sehingga saya tidak ganti baju, karena saya tahu masih ada lagi sesi yang membuat baju berlumpur lagi yaitu sesi halang rintang. Sebelum sesi halang rintang, acara diisi dengan simulasi perang. Semua peserta dibagi dua kelompok dan diberi balon lalu ditiup dengan besar tertentu. Target serangan adalah memecahkan balon peserta lawan sebanyak mungkin. Peserta yang balonnya pecah disuruh keluar arena peperangan. Kelompok saya menang dalam peperangan ini, namun balon saya sudah pecah sebelum perang berakhir oleh seorang akh yang begitu agresif, sampai-sampai hidung saya tak luput dari serangan tangannya. Saat keluar arena peperangan saya masih merasakan sakit di hidung saya. Serasa ada darah yang mau mengalir keluar. Sesi halang rintang berupa push up, sit up, rolling, merayap, guling-guling dan lari zig-zag. Selanjutnya dilakukan rafting dari sebuah bukit disamping sungai. Waktu magrib semakin dekat, sehingga panitia mempersingkat sesi ini. Saya sendiri hanya mampu mencapai 2 meter dan disuruh terjun ke sungai karena peserta masih banyak yang antri di atas bukit.
Setelah shalat magrib dan isya kami semua istirahat, makan malam dan mempersiapkan penampilan bakat kelompok. Sebagian besar anggota kelompok saya tertidur di tenda karena lelah seharian berkubang dengan lumpur. Cuma beberapa orang yang masih bangun, sehingga kami sulit mencari format penampilan yang akan kami lakukan. Ada ide untuk membuat drama musikal. Susah sekali mencari konsep drama dalam waktu singkat. Akhirnya kami memutuskan untuk bernasyid saja. Nasyid yang kami lantunkan adalah “Indonesia Memanggil”-nya Shoutul Harokah. Saat acara Haflah (penampilan bakat) semua kelompok menampilkan beragam kreatifitas, ada yang menampilkan teater, ada yang nasyid, ada yang unjuk jurus silat, ada yang mendongeng, ada yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, ada yang berlagak jadi penyiar radio, ada yang melakukan terapi balon, ada yang promosi produk terbaru mereka “susu mukhayam” dan masih banyak lagi. Namun kelelahan membuat sebagian peserta mengantuk ketika acara yang ditampilkan monoton. Bahkan ada penampilan yang tidak mendapat respon sama sekali oleh peserta, karena penampilan itu tidak ada ruh sama sekali. Kelompok saya pun ikut-ikutan ngantuk ditambah lagi jadwal penampilan kami adalah penampilan yang terakhir yaitu penampilan ke 20. Kami sempat putus asa, namun ternyata saat itu adalah waktu yang tepat untuk sebuah nasyid semangat yang akan kami lantunkan. Peserta yang tadi mengantuk sontak berdiri saat kami bernasyid, ”Negeri Indah Indonesia. Memanggil namamu, menyapa nuranimu”. Saya sempat melonjak girang, walaupun paduan suaranya hancur tak beraturan, banyak cengkoknya, tapi saya tidak peduli, yang penting semangat. Penampilan kami sukses dengan mengajak semua peserta untuk berdiri dan ikut bernasyid. Haflah berakhir pada pukul 00.30. Semua peserta kembali ke tenda dan dengan keadaan sangat mengantuk, namun malam itu ternyata masih ada tenda yang melakukan dirosah.
Pukul 4 pagi semua peserta dikumpulkan di depan tenda posko karena akan dilakukan jurit malam. Setelah dibekali sandi, pesan dan sebuah kotak amanah, kamipun berangkat dengan mengikuti rute yang kami lalui saat ma’rifatul medan pada sabtu pagi, tapi tidak ada masuk ke kolam bekas penggalian dan merayap di selokan berlumpur. Alhamdulillah, jurid malam dilalui kelompok kami dengan lancar.
Minggu pagi, seluruh kelompok mulai berkemas dan menyiapkan diri untuk longmarch. Acara longmarch, dipandu oleh seorang penunjuk jalan dari warga sekitar dan beberapa orang instruktur. Hujan lebat mulai mengguyur lokasi perkemahan. Namun cuaca ini cukup menguntungkan kami. Walaupun harus basah kuyup, namun energi tidak terkuras saat longmarch. Air hujan tersebut menyejukkan tubuh, sehingga kelelahan berjalan jauh jadi tidak terasa, Alhamdulillah.
Rombongan longmarch kembali lagi ke lokasi perkemahan untuk bersiap-siap pulang. Setelah shalat zuhur dan acara penutupan kami semua bermaaf-maafan dan mengucapkan salam perpisahan dengan seluruh panitia dan peserta mukhayam. Berharap dapat bertemu lagi pada mukhayam selanjutnya.
Recent Comments